Selasa, 11 September 2012

Petikan hikmah nikmatnya pacaran setelah menikah

assalammu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
ba’da tahmid dan shalawat...
             Syukurku kepada rabb yang telah memintalkan benang-benang napasku dengan selaksa ruh tobat. Dengan itu,  aku telah menemukan kembali pencerahan diri untuk segera memperbarui tobatku.
            Akhi, bersamaan dengan napas tobat yang tiada dapat kuserahkan kepada siapapun ini, rasanya aku ingin berkata sesuatu kepadamu, bahwa aku telah menemukan Kekasih yang lebih baik darimu. Yang Tak Pernah Tidur dan Mengantuk. Ia siap terus-menerus Menjagaku, Mengurusiku, dan Memperhatikanku. Ia selalu menemaniku berdua di sepertiga malamku. Ia yang Bertahta, Berkuasa, dan Maha Mencintai yang tiada pernah terbalas cinta-Nya.
            Maaf akhi, dan aku pun sadar setelah sekian lama merangkak bahwa dirimu bukanlah apa-apa dibanding Dia. Kau sangat lemah, kecil, kerdil, dan tidak ada apa-apa di hadapan-Nya. Ia bisa berbuat apa saja sekehendak-Nya kepadamu. Sementara kau tidaklah dapat berbuat apa-apa. Dan aku sangat mengkhawatirkan kalau Dia Cemburu atas hari-hari yang pernah kita tingkahi sebelumnya. Jujur, aku sangat takut kalau hubungan kita selama ini membuat Dia murka kepada kita, khususnya kepadaku. Dan jika itu benar –benar terjadi, sungguh, apalah arti aku hidup di dunia ini hanya karena hubungan yang kita bingkai dalam tali setan ini. Akhi, ia Mahakuat, Mahagagah, Mahaperkasa, dan Mahakeras siksa-Nya.
             Akhi, roncean napas kita untuk bertobat belumlah habis. Apa yang telah kita lakukan selama ini pasti akan ditanya di hadapan-Nya. Ia bisa marah,akhi. Marah tentang saling pandang yang pernah kita lakukan, marah karena setitik sentuhan kulit kita yang “belum” halal itu, marah karena terpaksa bahwa suatu ketika aku harus membonceng motormu, marah karena ketetapan-Nya kuadukan padamu atau karena lamunanku yang selalu membayangkan wajahmu, Marah karna tangisanku levih banyak jatuh padamu. Ia bisa marah,Akhi. Ah, dibalik tirai-tirai palsu itu, semuanya belumlah terlambat. Ya, kalau kita putuskan hubungan kita sekarang. Ia Mau Memaafkan dan Mengampuni. Ia Maha Pengampun. Dia tidak pernah lari dari kita, selama kita masih mencari-Nya.
              Akhi, aku mohon jangan marah. Aku sudah bertekad untuk benar-benar menyerahkan dan memutuskan seluruh dendam cinta dan haru biru rinduku pada-Nya, tidak pada selain-Nya. Tetapi tak hanya diriku, Akhi. Kau pun bisa menjadi kekasih-Nya. Namun, salah satunya adalah dengan menjauhi semua hubungan kita selama ini. Juga terus menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Aku ingin bertobat, akhi. Insya Allah. Dia sudah merencanakan masa depan yang indah untuk masing-masing kita. Kalau engkau selalu dan terus berusaha mendekati-Nya. Yakinlah, kau pasti akan dilambaikan kepada seorang perempuan shalihah. Ya. Dia adalah seseorang yang jauh lebih baik daripada diriku yang penuh dengan lelumpur dosa. Dia akan membantumu, menjaga diri dan agamamu. Agar dirimu senantiasa terbingkai dalam paragraf
kesucian menyambut pernikahan yang suci nanti. Inilah doaku untukmu, semoga kau pun mendoakan aku, akhi.
             Akhi, aku adalah masinis yang membawa rangkaian jiwaku. Aku telah memutuskan untuk memutar haluan hidupku yang salah arah ini. Tetapi, aku akan tetap menghormatimu sebagai saudara dijalan-Nya. Ya. Saudara di jalan Allah. Dan inilah sampul yang menyimpul segala kebaikan antara kita. Lebih dari itu, hingga seluruh Mukmin yang ada didunia ini. Tak mustahil pula bahwa yang demikian akan mempertemukan kita dengan rasulullah di telaganya, lalu beliau pun memberi minum kita dengan air yang lebih manis daripada air sirup dirumahmu dan rumahku.
              Astaghfirullah. Maaf akhi, tak baik rasanya aku berlama-lama dalam menulis surat ini. Aku takut akan merusak hati. Goresan pena terakhirku saat ini adalah doa keselamatan dunia akhirat sekaligus tanda akhir dari hubungan ‘haram’ kita selama ini. Insya allah.

Wassalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
#sumber: novel nikmatnya pacaran setelah pernikahan

0 komentar:

Posting Komentar